Kamis, 09 Mei 2013

Lihat Lebih Dekat

Kemarin, gw nonton film Petualangan Sherina di salah satu stasiun tivi swasta. Gw udah lupa kapan pastinya film Petualangan Sherina ini rilis di bioskop. Udah lama banget. Yang pasti, mungkin sebelum universitas BSI  buka cabang di Depok, Rawamangun, dan belasan cabang di sudut-sudut ruko Jabodetabek lainnya, atau sebelum kuntilanak dihadirkan dengan berbagai macam varian seperti Kuntilanak Keramas, Kuntilanak Ternoda, atau Kuntilanak Berebut Gayung.

Petualangan Sherina. Salah satu lagu di film tersebut yang gw suka adalah yang judulnya Lihat Lebih Dekat. Kira-kira lirik yang mengena seperti ini "Lihat s'galanyaaa, lebih dekat, dan kaaau akaan meengertiii..." Lihat lebih dekat dulu, baru deh kita bisa mengerti.In terms of hubungan bermasyarakat sih... Jangan baru sehari, seminggu, setahun temenan, udah macam hidup bareng sejak lahir. Sok taunya macam Google.

Sering kan, kita temukan orang yang ngedumel, "Lo bukan nyokap gw, jadi ngga usah sok tau soal hidup gw!" Ada benarnya, tapi juga (kadang) ada ke-kurang tepat-an dalam kalimat tersebut jika orang yang mengucapkannya adalah orang yang hiperaktif di media sosial. Mau mandi, ngetwit. Mau makan, ngetwit. Mau bersihin muka, ngetwit. SMS ngga dibales pacar terus kesel, ngetwit. Putus sama pacar terus ngga bisa move on sepanjang dekade, ngetwit. Nangis karena udah sejam ngga dapet taksi di salah satu mal mewah Jakarta, ngetwit. Ngga tau mau ngetwit soal apa, ngetwit. 3 menit sekali, ngetwit. Orang apa detik.com?

Lantas kemudian kalo ada orang lain yang berspekulasi soal kehidupan si pengetwit tadi, "Ih, dia pasti lagi begini deh..." "Ih pasti karna ini deh dia begitu...." Si pengetwit yang hiperaktif itu pun biasanya akan marah-marah "Ngga usah sok tau soal hidup gw! Yang jalanin hidup ini kan gw!!" Padahal kan, kita-kita juga ngga perlu sok tau soal hidupnya dia... Lah wong saban hari juga diumumin soal segala problema dan intrik di hidupnya dia. Palingan publik cuma missed 6 jam aja dari segala aktivitas dia yang dimulai pada jam 12 malam - 6 pagi, pas dia sedang tidur.

"Yang jalanin hidup ini kan gw!!" Ya, kami tau. Kita juga ngga pernah berminat untuk mencampuri kehidupan orang lain mengingat hidup masing-masing orang aja udah banyak persoalan. Tapi kan, kita (secara otomatis) udah jadi saksi perjalanan hidup kamu. Masa kita ngga boleh ngerasa amazed dan berdiam diri sebentar -sambil mengabarkan ke beberapa-cenderung-banyak orang tercinta kita- ketika melihat mobil transparan isi orang telanjang yang melintas di depan kita?

Ya memang, tetap aja kita ngga bisa 100% tahu soal kehidupan orang lain dengan hanya melihat data-data yang ditebarkan lewat media sosial. Tapi, even cuaca dan gunung meletus aja bisa diprediksi kan? Ya walau kadang prediksinya sering meleset, tapi kan banyak orang yang mau percaya sama ramalan tersebut.Ngetwit sedih setiap hari, kita bakal dipercaya public sebagai orang yang pathetic though we are not. Ngetwit marah dan ngedumel setiap hari, orang-orang yang secara aktif ngecek timeline bakal nuduh kita sebagai orang yang ngga tau bersyukur. Kayak gw, setiap hari ngetwit nyinyir. Publik ya taunya gw sebagai orang yang nyinyir. Padahal mah di kehidupan sehari-hari baik-baik aja. Tiap ada temen yang mau pinjem duit, gw baik. Ada ibu-ibu yang kerepotan nyebrang, gw baik. Ngeliat kotak amal melintas di depan mata ketika solat Jumat, gw baik. Tapi publik taunya gw orang yang nyinyir. Persetan dengan kata dan tuduhan orang lain? Ya bisa aja - kalo kalian tinggal di pulau Christmas.

Jauh Dekat Sama Aja
Tersebutlah artis bernama Syahgini. Syahgini merupakan salah satu dari banyak contoh artis yang tanpa prestasi tapi terkenal-terkenal aja tuh. Tampilan dan kelakuannya sangat mengesankan sebagai individu dengan nilai IQ yang tidak lebih tinggi dari 63. Sekalinya dapat 85, mungkin itu didapatkan dengan hasil menyewa joki ketika tes sedang berlangsung. Non-smart artist. Tapi ya gw ngga perlu sok tau lah ya. Siapa gw? Tau kehidupannya dia aja paling cuma 5-20 menit per minggu ketika dia muncul di tivi untuk mengupdate segala kegiatannya yang tidak lebih penting dibanding kabar pemilihan umum di daerah Timbuktu. Sampai kemudian ketika Syahgini menjadi juri di ajang Indonesia Mencari Bakat di salah satu stasiun tivi swasta. Buat gw, fungsi dewan juri di ajang pencarian bakat adalah untuk mengomentari peserta, menghibur penonton, dan menciptakan sensasi benci dari penonton, khusus untuk juri yang biasa dianggap kejam. Tapi Syahgini? Menghibur tidak, komentar pun tidak (pintar). Ibarat butiran kapas yang menempel di kaos ketika kita lagi jogging di pagi hari; berguna, tidak - mengganggu pun tidak.

Beda dengan Nicki Minaj. Di tiap video klip musiknya, selalu terkesan sebagai perempuan "Kurang pintar". Dandanannya kadang 11-12 sama Ki Joko Bodo. Sampai kemudian Nicki Minaj didaulat sebagai salah satu juri American Idol yang ditayangkan di Star World. Bagi yang ngga memiliki akses ke tivi kabel, mungkin bisa menyaksikan American Idol di BChannel. Enak lho BChannel. Hampir ngga ada iklan di sana. Sekalipun ada, mungkin hanyalah iklan salep pengurus badan atau wajan ajaib buat memasak ikan salmon, yang sebetulnya ngga berguna buat ibu rumah tangga kelas B-C karna ngga awam untuk masak salmon di rumah. Kelas A pun ngga akan ada kemampuan untuk masak salmon di rumah.

Nicki Minaj di Idol. Tadinya, yaelah ngapain sih ni orang jadi juri? Emangnya bisa? Ternyata setelah beberapa episode dan seterusnya, komentar Nicki Minaj sering terdengar lebih berbobot dan lebih pintar dibanding juri yang lainnya. Wajar kalo istilah "Lihat segalanya lebih dekat, baru deh kita bisa mengerti" cocok untuk kasus Nicki Minaj di ajang American Idol ini. Kesan luarnya berantakan, tapi ternyata 'isinya' lumayan rapih.

Don't Judge a Book by its Cover. Benar sih. Tapi masa kita mau beli buku yang sampul depannya sobek dan ada petilan upil di atasnya? Ngga kan? Dalam menilai orang, biasanya gw akan selalu ngeliat luarannya dulu. Kalo tampangnya jutek, ngga bersahabat, rambutnya ngga disisir, alis kanan dan kiri ngga simetris, gw biasanya akan menjauh dari orang tersebut. <-- *orangnya perfeksionis* Kalo pun ternyata orang tersebut berkelakuan baik, ramah, dan asik, ya berarti butuh waktu buat gw untuk akhirnya bisa akrab sama orang yang tampilannya kayak gw sebutin di atas. Butuh waktu. Ngga bisa langsung akrab karena tampangnya jutek. Kalo bisa cepet akbrab, padahal kan lebih enak ya? Momen "Gw udah tau kalo kita bakal akrab kayak gini dari awal!" kan terasa lebih sweet dibanding "Lo siihh, ngga mau mengenal gw dari pertama ketemu".

Maka dari itu, lebih baik jika kita berusaha untuk tampil bagus dulu secara tampilan.Kalo ternyata 'isi' diri kita tidak memenuhi persyaratan pihak lain, ya at least kita pernah ada kesempatan untuk menjalin komunikasi dengan orang lain tersebut walau cuma sebentar. Jangan minta orang untuk bisa ngeliat kita dari dekat kalo tampilan luar aja udah amsyong. Siapa yang mau ngedeketin kita? Paling banter tukang somay atau tukang ojek di pinggir jalan yang berharap kita beli jajanan dan servis mereka. Selebihnya, mikir-mikir. Jangankan ngeliat lebih dekat, ngeliat penampakannya dari jauh aja udah baca ayat kursi. I am not talking about kegantengan dan kecantikan walau kadang faktor itu juga mendukung kesuksesan dalam berhubungan di masyarakat. Tapi masa harus dapet transferan 10juta dulu baru bisa senyum ke orang-orang? Masa kena macet dikit aja udah sumpah serapah di timeline macam Arya Wiguna kecipratan becekan waktu mau nyebrang di Jl Ps Minggu? Ngga kan?

Senin, 01 April 2013

Ada yang Sedih, Ada yang Narsis

Kalo ada yang bergembira di atas kesedihan orang lain, itu wajar. Biasa dibahas sama orang-orang. Gw juga sering melakukan itu. Tiap ada orang yang gw ngga suka yang dikabarkan sedang mengalami kegagalan atau kesedihan, gw akan mengunci diri di dalam kamar selama 12 jam dan tertawa seharian sambil nyobek-nyobekin boneka koleksi gw yang mukanya udah dipasangin lembaran foto-wajah orang yang gw benci tersebut.

Dewi Persis juga melakukan itu, ketika dia lagi konpers di tivi menanggapi ditahannya Julia Reus atas aksi jambak-jambakan yang mereka berdua lakukan pada saat syuting film horor yang sangat membanggakan bagi kalangan keluarga Punjabi dan alay-alay se-Indonesia. Dewi berkata dengan muka merona yang seakan siap untuk diajak dangdutan: "Ah aku simpati sama dia (Julia)... Semuanya kan merupakan pelajaran berharga buat kita semua."

Gembira di atas kesedihan orang lain. Kita semua melakukan itu, ketika Marjanda atau yang akrab disapa Chichi sedang rapuh di youtube dan menyatakan kekesalannya atas Adinda Mutiara Sabila Purnomo Sidi yang membully dia di sekolah. "Sama  Muhammad Davi Widodo, yang pernah insult gue (Chichi), yang ngajak gue ke depan kelas. Ingat-ingat lo ngapain!!" Semua diucapkan Chichi sambil nari-nari... Kita semua menertawakan Marjanda kala itu. Menghibur sih. Bahkan gw berharap video itu diangkat ke layar lebar dengan judul Kesumat Sang Gadis Labil.  "Lagu-lagu ini kayaknya sangat cocok buat teman-teman SD gue, yang musuhin gue. Gue nggak punya teman, gue struggle kayak orang gila di sekolah gue sendiri." Padahal aksi dia di youtube juga udah kayakorang gila.. Kok ya ngga sembuh-sembuh dari SD... :( Mungkin dia tidak lagi mendapat bantuan dari Ibu Peri seiring dengan selesainya sinetron Bidadari yang tayang tiap malam di RCTI.

Semua kasus di atas itu merupakan contoh gembira di atas kesedihan orang lain. Hampir mirip sih dengan orang yang gemar narsis di atas kesedihan orang lain. Beberapa minggu lalu, ada salah satu teman gw yang ditinggal pergi (selama-lamanya) oleh teman baiknya. Bagaimana gw bisa tahu beritanya? Lha wong diumumin di status Facebook. Pertama, dia posted status: "Guys.. (dengan ngetag nama-nama temannya), si ini telah mendahului kita... Bla-bla-bla...." Beberapa saat kemudian, dia pasang lagi status serupa dengan ngetag nama-nama teman yang lain. Cukup bisa ditebak, menit selanjutnya dia pasang status yang serupa lagi, begitu seterusnya sampe temannya abis. Kalo jumlah teman di facebooknya dia ada 2345 orang, dia akan tetap pasang status serupa sampai di acara pengajian 1000 hari teman baiknya yang telah pergi itu.

Wajar sih sebenernya, karena kan kabar seperti itu memang perlu diberitahu ke orang lain supaya orang lain bisa berkunjung ke rumah yang "sudah pergi" dan menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Cuma yaaa... Kalo sampe puluhan kali masang pengumumannya sih, ini berita duka atau promosi lomba cheerleaders tingkat SMA?

Di keesokan harinya, si temen gw, yang ditinggalkan teman baiknya ini, upload foto suasana pemakaman si teman "yang sudah lebih dahulu pergi" itu. Wajar. Tapi kok ya sampe belasan foto dia upload? Mulai dari foto keluarganya, foto dia bersama teman-teman sewaktu lagi baca doa, foto kuburan temannya dari bagian tampak depan, tampak samping kanan, tampak samping kiri, tampak kurang pencahayaan, sampe tampak mistis, semuaaaaaaa dia upload. Macam orang baru pulang dari liburan yang keranjingan upload foto di facebook. Sedih ngga sih sebenernya ditinggal temennya?

Sampai minggu lalu, dia masih suka pasang status "Kangen si ini... (temannya yang sudah lebih dahulu pergi)" -___- EHYAUDAHLAHYA SONO NYUSUL AJA!

Hal yang agak serupa dilakukan Syahroni. Ketika gunung Merapi meletus tahun 2010 lalu, dia berkunjung ke salah satu lokasi pengungsian. Di sana, si Princess Syahroni terlihat sangaaat sedih dan sempat sesekali menjawab pertanyaan wartawan dengan suara lirih. Namun lain halnya dengan perhiasan dan kostumnya yang sangat memancarkan kebahagiaan. Belum lagi make upnya yang sepertinya harus menghadirkan truk molen untuk mengaduk bedak dasarnya tiap dese melakukan sesi make up. Ngga papa sih. Jadi artis harus dandan, memang. Tapi bisa ngga sih disesuaikan dengan tema? Serupa dengan pejabat-pejabat kita yang suka mendadak pasang poster dengan embel-embel "Berduka untuk korban...." dengan tetap menampilkan foto dirinya dan logo partainya. Atau ribuan kali pasang status "Sabar ya, friend... Dompet lo yang ilang pasti bakal ketemu atas ijin Allah" lengkap dengan puluhan emoticon ':('

The point is, selow lah. Ngunjungin orang sakit cukup bawa buah, ngga perlu bawa semua menu Restoran Sederhana ke rumah sakit. Kalo ada temen yang baru putus dari cowoknya, hiburlah sedikit. Sedikit aja, ngga perlu sampe ngadain yasinan satu divisi kantor. Sampaikan secara private, jangan lewat status. Gitu aja sih. Orang pasti tau kok ketulusan kita dalam memberi sesuatu tanpa kita harus melancarkan ribuan komunikasi verbal yang cetar membahana yang seakaan pengen diliat orang lain bahwa kita adalah orang yang baik. Karena sesungguhnya, kebaikan hanya milik Allah dan kekurangan milik Bunda Dorce.

Minggu, 10 Februari 2013

Y Factor

I mean why? Why.....?

Imlek taun ini diwarnai dengan berita pernikahan Andhika eks Kangen Band yang ke-4 (empat). Udah ngga ngerti lagi gw sama ni orang. Hugh Hefner, pemilik majalah Playboy, punya istri banyak karena uangnya melimpah. Christiano Ronaldo gonta-ganti cewe karena gantengnya tumpah-tumpah. Tapi kemudian Andhika? Bak akibat yang hadir tanpa disertai sebab. Banjir karena hujan dan buruknya drainase. Macet karena kebanyakan mobil. Banyak uang karena karirnya bagus. Andhika nikah 4 (empat) kali? Dulu ada tukang martabak langganan gw yang pacarnya banyak. Karena memang dia ganteng. Tapi Andhika? Ibaratnya petir aja males menyambar dia saking gimanaaa gitu.

Sekarang Andhika lagi menjalani masa hukuman karena dilaporkan telah melakukan tindak penipuan terhadap wanita yang dinikahinya sekarang. Abis ditipu terus mau-maunya dinikahi? Suami-istri ngga ada yang jelas. Buat nikahnya pun cuma dikasih ijin keluar 2 jam dari penjara. Tapi kemudian Andhika, keluarganya, dan istrinya yang sebelumnya melaporkan Andhika ke kepolisian, merasa kecewa karena Andhika cuma dikasih waktu 2 jam buat nikah aja. Ngga sempet ngapa-ngapain dan bulan madu, katanya. Ya robiiii... Emang bulan madunya mau ngapain sih? Pijit-pijitan di pinggir pantai? Mencet-mencetin jerawat Andhika sambil mesra-mesraan di atas fly over Pasar Rebo? Mau ngapain?

Oke. Sebenernya topik ini mau gw fokuskan ke ajang-ajang mencari bakat yang ada di tivi. EksFactor di RTCI. Pertama gw liat, jurinya udah kacau.

Dhani. Ngga pernah lho gw liat dia ngeluarin komentar yang pintar barang satu kaliiii aja. Ya namanya juri kan harus pinter ngomen. Nah dia? Terakhir dia pernah komen "Ini adalah ajang Indonesian Odol yang paling bagus yang pernah saya liat, tapi saya ngga tau kenapa". Lah, Mas? Terus tau bagusnya dari bisikan kuntilanak keramas? Penonton suruh pada nanya ke nenek gayung soal kenapa acara Indonesian Odol yang kali itubisa bagus? Satu lagi komennya dia di luar ajang mencari bakat, dia pernah ngetwit "Emang udah bakatnya lelaki untuk selingkuh, kalo ngga suka ya take it or leave it". Gw lupa susunan asli kalimatnya gimana, yang jelas dia twit itu pas lg ada konflik sama Mulan. Pertama, twitnya dia sangat ngga menghargai Nazzar KD-Oh dan Dr Boyle yang udah nikah tahunan tapi ngga pernah selingkuh dengan wanita lain. Kedua, twitnya dia itu kurang detail karena cuma lelaki banyak uang nan mata keranjang yang ngga tahan godaan aja yang doyan selingkuh. Ya kan? Amen.

Rosses. Gw sih ngga pernah ada masalah sama Rosses mengingat dia bukan tipe artis yang pecicilan dan banyak laga. Dia lebih yang kalem dan ngga suka cari masalah. Tapi lagi-lagi, dia kurang pinter ngasih komen. Kebanyakan peserta diketawain, ditangisin, dan dilebay-lebayin sama dia. Duh, lo jadi penonton aja lah di rumah kalo bisanya cuma ketawa, nangis, dan nambahin drama.

Beb Romero. Yang paling rajin muncul di tivi, istrinya sih. Jadi bintang iklan terselubung di acara gosip. Nyeritain kesibukannya dia terus tau-tau nyuapin anaknya pake multivitamin yang lagi diiklankan. Bikin liputan kegiatan sehari-harinya dia sambil ngasih tau rahasia langsingnya pake susu diet si pengiklan, dan lain-lain. Beb Romeronya sendiri? Ngga tau juga kesibukannya apa. Terakhir gw denger albumnya dia yang merupakan hadiah dari transaksi di KFC sebanyak Rp 1 juta lebih. Selain album Beb Romero, ada juga single Duda Herlino yang, sampe sekarang CDnya udah jadi tatakan obat nyamuk, ngga pernah gw dengerin sedikit pun. Tapi gw pernah denger albumnya Beb Romero. Isinya duet semua, salah satunya sama Rosses. Dan dari kesemua duetnya itu, terdapat 4 kali modulasi (ganti kunci nada) dalam tiap 1 lagu. Ya, suaranya Beb rendah banget kan ya... Jadi pas masuk Rosses, kuncinya tinggi. Tapi pas masuk bagian Beb Romero, kuncinya direndahin lagi. Komentar pendengar? CAPE. Naik-turun-naik-turun. Persetan dengan jenis suara yang (katanya) romantis. Kalo ngga fleksibel, buat apa? Komennya dia pun ngga pernah jelas. Kamu bagus. Kamu punya ciri khas. Kamu keren. Nyokap gw juga bisa kayaknya kalo ditaroh di meja juri Eks Factor.

Jenis suara yang cocok dengan selera gw emang limited sih. Harus suaranya bersih, nafas panjang, ngga serak (walau katanya serak menjual) dan ngga mendesah. Praktis, penyanyi yang gw suka cuma Rachel Berry (kalo kalian nonton Glee), Ruth Sahanaya, Bamz Samson, Once, dan Celine Dion.Others named Cakra Khan, Raisa, Shandy Sondoro, Mariah Carey, BCL, The Sisters, Ki Joko Bodo, Nikita Willy, Baim Cilik, Evan Sanders, Melaney Ricardo, ngga ada yang masuk ke selera gw. *kesuluruhan artis disebut tadi sudah memiliki at least 1 single selama hidupnya, termasuk Ki Joko Bodo if you want to believe it*

Mari kembali ke ajang Eks-Factor. Episode pertama, gw ngga nonton karena tadinya gw kira itu acara kesurupan massal yang diliput tv nasional. Di episode kedua  gw mulai nonton. Peserta-peserta dengan kostum yang ngga lebih indah dari hordeng warteg, jas ujan tukang ojek, atau taplak restoran Padang, pun mulai memenuhi layar televisi gw. 

Kostum tidak masalah asalkan kalian punya suara.
Kata siapa? Ngga asik kan liat Britney Spears joget-joget di panggung dengan seragam Pramuka? Yang lagi terkenal di ajang EksFactor sekarang adalah Fatin. Gadis berjilbab yang mencuat ketika dengan mulus nyanyi Bruno Mars. See? Gw yakin masyarakat menilai Fatin 70%nya dari kostum dia. YAKIN. Kenapa? Karena suaranya Fatin biasa banget. Rangenya di situ aja, ngga bisa kemana-mana. Ekspresi? Lebih flat dari lapisan wajan teflon. Terakhir dia tampil dengan baju yang ngga jauh beda dari busana pegawai kelurahan yang lagi siap-siap apel pagi. Suaranya biasa (walau ngga jelek) tapi karena pake jilbab. Widiiiih, padahal pake jilbab ya, tapi suaranya bisa keren begitu.... <-- komentar kumpulan tukang ojek di depan kantor gw. Ngga tau kenapa, tapi pas Fatin nyanyi lagu Bruno Mars Grenade, kuping gw malah mendengarnya lagu Umi by Hadad Alwi.

Yang berlaku sekarang tuh "Ngga papa ngga punya suara selama kalian punya drama". Juri Rosses mengamini hal itu. Tiap ada peserta yang datang dari kalangan tertentu, langsung nangis. Suara bagus dikit tapi kalo profesinya menyayat hati, langsung dilulusin. Dulu peserta Indonesian Odol ada yang ngaku sebagai pengamen di KRL Jabodetabek dan memang bagus pas nyanyi lagu ST12. Sayangnya, bagusnya cuma nyanyi lagu ST12 dan sampe babak final dia nyanyi lagu ST12. Ya lu kira semua orang di Indonesia ini suka sama lagu ST12? Terakhir gw denger dua lagu ST12 berturut-turut, langsung gejala tipes. Terus ada lagi peserta Indonesian Odol yang ngakunya pengamen juga. Tapi tiap mamanya hadir nonton anaknya nyanyi di ajang Odol itu, tampilan mamanya bak wanita yang ngga pernah absen dari kunjungan mingguan ke Erha Clinic. Tu anak ngamennya di mana? Disawernya 20 dolar per jam?

Tampang ngga masalah asalkan suara bagus
Harus gw amini hal tersebut. Tapi percayalah, yang rupawan dan bersuara bagus akan lebih diinginkan dibanding yang "Kok gitu sih" nan bersuara biasa. Dulu gw sempet mengira film serial SwampThing diputer lagi di tivi ketika ngga sengaja nyetel Indonesian Odol yang menampilkan Yoda sebagai salah satu peserta. Suaranya pun standar.

Lalu hadir peserta di EksFactor yang berjenis kelamin lelaki namun bersuara perempuan. Aduh, suaranya biasa banget. Perawakannya pun semacam mampu membuat panggung runtuh, literally. Gw ngga paham kenapa dia bisa lolos terus. Tampang? No. Ada yang bilang tampangnya seperti ibu kos-kosan, while gw merasa tampang dia lebih mirip susi Susanti yang lagi hamil 7 bulan. Suara? Ngga jelas banget. Suara cowo ngga bisa, suara cewe ngga total.Why....?

Komentar untuk Introspeksi
Mulai tahun 2009, gw emang menciptakan satu istilah yang namanya #JumatSilet di salah satu media sosial. Kenapa #JumatSilet? Karena Indonesian Odol ditayangkan di hari Jumat dan selalu gw komenin jahat (silet) di media sosial tersebut. Alhamdulilah tayangan Eks-Factor juga ditangkan di hari Jumat, jadi gw ngga perlu ubah nama sesi persiletan gw menjadi #KamisSilet atau #MingguBerdarah.Respon orang lain atas #JumatSilet gw cukup beragam. Ada yang terhibur, mengamini tapi tidak memiliki cukup keberanian untuk mengRT, mendukung, dan ada juga yang protes. 

Sempet ada yang pernah "teriak" ke gw begini: "Yaudah sih, No. Kalo ngga suka, ya ngga usah ditonton. Jangan malah dinyinyirin gitu." I think he's just missing the point. Ngga suka = ngga boleh (dilakukan) ditonton. Contoh kasus tinggal di Jakarta. Widih, penat bener gw. Tiap hari kesel sama macet yang udah macam ingus kena udara dingin. Mampet pet pet. Kalo ada tawaran kerja di banyuwangi dengan gaji 5 juta per minggu, gw mau pindah deh. Asal AirAsia juga udah buka hub ke sana, sih. <-- banyak syarat. Tapi kan artinya gw masih butuh sama Jakarta. Uang gw ada di sini lah istilahnya, buat gw pake untuk hal-hal yang menyenangkan seperti nyicil mobil dan mulai DP rumah. <-- *mengada-ada* *kredit motor aja masih ngambil yang cicilan 52 bulan* Ngga asik tinggal di Jakarta, tapi menyenangkan. Begitu juga dengan nonton acara Eks Factor. Ngga bagus banget itu acara, at least ngga lebih bagus dari serial Angling Darma di Indosiar, tapi kan menyenangkan. Gw bisa ngetawain pesertanya, menghibur diri karenanya, menghibur follower berikutnya. Memanfaatkan mereka buat kesenangan pribadi dong? Ngga juga kok. Gw selalu berharap mereka-mereka yang gw nyinyirin itu bisa baca komentar gw dan dijadikan bahan introspeksi buat mereka. Jaman sekarang kan jamannya individualisme. Tetangga bermasalah, dicuekin. Temen kena Narkoba, kita tinggalin. Nah gw kan ngga gitu. Kaum-kaum yang bermasalah itu, masih mau gw coba untuk sadarkan supaya mereka bisa kembali ke jalan yang wajar. Gitu aja, sih. You  got my point kan, Ray?

Kamis, 17 Januari 2013

Tampil Cantik (Extended)

Lah? Kok pake extended macam film Eiffel I'm in Love yang ngga ada bagus-bagusnya tapi laris manis? Kalo inget Sampul Rizal di film itu, kayaknya aktingnya dia ngga jauh beda dari Azis Gagap. Belepotan gitu. Tapi laris. Galileo juga ngga bakal paham kenapa film Eiffel I'm in Love bisa laris. Larisnya sampe meminta korban nyawa yang berdesak-desakan di pemutaran perdananya di bioskop mal Cijantung. Mal mana? Mal Cijantung. Oyaudahlahya.

Terus kenapa cerita ini ada extendednya? Karena ada yang komplen:

*juga mungkin maksudnya jangan*


Sebenernya soal isi nyinyirdotcom yang ngga bisa sepanjang ninoynino.blogspot.com itu, ya karena di sini gw bener-bener harus nyari ide segar semacam 80% dari keseluruhan isi blog. Susyeh. Kalo di ninoynino.blogspot.com kan, gw udah punya bahan 80% dari perjalanan gw, jadi tinggal nambah 20%nya lagi buat materi-materi OOT. Kalo di sini, gw cuma punya bahan 20% yang gw peroleh dari hasil nonton infotainment dan 80%nya lagi harus gw pikir sendiri. Susyeh. Apakabarnya kalo gw skip acara gosip sehari? Infotainment yang memenuhi standard kualitas-1 buat gw cuma Insert dengan gabungan host Indra Herlambang dan Fenita Arie aja. Selebihnya, nol. Apalagi acara gosip yang ada di SCTV. Duileh, ngegosipinnya kok artis-artis FTV dan pemain sinetron stasiun TV mereka yang lagi pada baksos, makan mie ayam, bungkus kado, bersihin kandang ayam, atau siap-siap syuting. PENTING BUAT IDUP GW? Rasanya pengen gw tulis di surat pembaca kalo ada acara gosip yang macam begitu-gituan. Kalo gw dapet 3 permintaan dari jin di dalam botol, jelas gw akan meminta 3 permintaan ini:

1. Acara gosip di SCTV dihapus
2. Aurel tidak dilahirkan ke bumi. Well, sebenarnya akan lebih arif kalo gw meminta agar Aurel diberikan suara yang merdu aja. Tapi gw yakin, kekuatan gaib pun ngga akan mampu menyembuhkan dirinya dari kefals-an suaranya yang bisa membunuh 3 ekor ular sanca dalam 1 bait nada
3. Follower twitter gw nambah 100

Jadi, mari kita ulang cerita kemaren dengan beberapa penambahan dikit aja. Biar agak panjangan lah gitu...

Keinginan untuk selalu tampil cantik itu, ngga terbatas umur, latar belakang sosial, profesi, ataupun orientasi seksual. Ngga cewe, ngga cowo, semua berlomba-lomba untuk bisa tampil cantik. Semua? Ngga juga.

(Big) Royal Wedding
Dulu, mungkin sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu, ada putri keraton yang melangsungkan pernikahan, yang kebetulan sempet sekilas diliput oleh media massa. Putri keraton. Jabatan yang berat memang. Tapi ketika gw ngeliat prosesi pernikahannya, gw agak bingung buat memastikan yang mana yang putri keraton dan yang mana yang merupakan tenda pernikahannya. Ya, putrinya kegemukan. Gemuk banget sih kalo mau dibilang. Sebenernya kalo ngomongin kegemukan, ini soal yang sensitif. Bisa masuk ke kategori bullying. Tapi yaaa, mengingat itu orang punya jabatan "putri", agak gimana gitu jadinya. Dijaga kek berat badannya. Masa penghulu, meja ijab kabul, dan janur kuningnya sampe pada ketutupan badan dia gitu? Putri keraton ya harus cantik dan semampai, ngga berbadan lokomotif. Kalo ngeliat bentukannya, mungkin dia lebih pas untuk menjabat sebagai Putri Empal Gentong, yang merupakan ambassador untuk makanan-makanan khas Jawa Tengah.

Yaaa, namanya juga putri. Putri salju, Putri Indonesia, putri ayu (salon). Semua kan dikisahkan yang ayu-ayu, cantik, lemah lembut. Tapi dia? Ibaratnya dongeng putri tidur yang harus dicium pangeran dulu baru bisa bangun dari mimpinya, mungkin si putri keraton yang gw maksudkan ini harus kesundut kabel SUTET dulu baru bisa kebangun dari tidur. Sayang, waktu itu liputannya cuma sekilas, jadi gw ngga sempet liat ketika si putri dan suami diarak keliling kota menggunakan dokar. Karena gw sebenernya sempat bertanya-tanya dalam hati, akan menggunakan berapa tenaga ekor kuda untuk menarik si putri keliling kota? 15? 132? Atau diarak menggunakan traktor penghalus aspal jalanan? Entahlah.

Another Big Royal Wedding
Sebenernya, minggu-minggu lalu juga baru aja ada yang menyelenggarakan Big Royal Wedding. Sebutlah Olivia, anak dari buah pernikahan Nia Dihianati dan Farhat Asbes. Olivia mungkin terlahir langsing, tapi sayang bertumbuh agak kelebaran. Kalau Nia dan Olivia disandingkan berdua, akan jelas terlihat perbedaannya. Nia ibarat gelas-gelas kaca, sedangkan Olivia tak ubahnya sebagai gentong-gentong tanah liat. Di acara ulang tahun 17nya Olivia dulu, Nia dan Farhat membelikan Olivia 1 buah mobil Honda Jazz. Pertanyaan gw pada waktu itu adalah: Apakah muat? Mungkin akan lebih cocok kalo dikasih Nissan Terano atau Alphard aja. Okesip. Mungkin uangnya ngga cukup buat beli Alphard.Karna Farhat Asbes juga kan, karirnya kembang-kempis gitu. Kerjannya lebih banyak nyampah di infotainment dibanding bela warga di ruang pengadilan. Mungkin dia lebih cocok bisnis online ajalah. Atau buka lapak pulsa atau nasi rames di ITC. Atau apalah.

Tampil cantik tapi apa daya
Bedak ditebelin, perhiasan dimenterengin, baju diseksi-seksiin. Tapi tetap, penampilannya ngga bisa meninggalkan kesannya sebagai Aurel Herminsyah. Beberapa minggu lalu, dia sempat tampil di tivi dengan tanktop seksi. Seksi? Ya, seperti melihat bolu kukus karamel yang setengahnya ditutup kertas alumunium. Bedaknya juga ketebelan macam bisa menyerap banjir Jakarta. Tapi gw ngga bilang Aurel jelek lho. Kalo ada peringkat 100 besar artis-artis cantik Indonesia, mungkin Aurel masih ada di posisi 89; tiga tingkat di bawah Omas Wati dan 1 tingkat di atas Abdul Rojak (bokapnya Ayu Ting Ting).

Cantik ngga harus berkutat di penampilan luar. Iya. Langkah Aurel dengan meluncurkan single, yang beberapa di antaranya lebih cocok dijadikan sebagai musik penolak bala, sebetulnya bisa dibenarkan. Mungkin dia ingin memunculkan kecantikannya secara suara, setelah sebelumnya mungkin sadar kalo kecantikan parasnya ngga terlalu bisa diandalkan untuk diumbar. Tapi sayang, lagi-lagi gagal. Kadang, gw mengira suaranya Aurel merupakan tiupan sangkakala yang menandakan bahwa dunia sedang memasuki kiamat. Parau sekali suaranya. Seperti kucing yang mau lahiran dengan proses cesar karena posisi bayinya sungsang. Tapi gw dukung lah usaha Aurel dalam mencari sisi cantik yang ada di dalam dirinya. Mungkin keahlian dia bukan di suara, bukan di paras, apalagi di lekuk tubuh. Tapi siapa yang tahu kalo suatu saat nanti dia bisa sukses menjadi atlit lempar galah yang musti mengakhiri karirnya karena terkilir ketika SEA Games, atau jadi sekretaris perusahaan ternama yang terancam bangkrut setelah menghire Aurel, atau jadi pialang yang ngga pernah dapet klien, atau jadi tukang pecel lele? We will never know but i'll keep nyinyirin her.

(Seharusnya Ngga) Tampil Cantik
Jeremy Teti. Eh, ngga ya? Cantik ngga sih ni orang? Pokonya tiap ini orang tampil di tivi, gw kepengennya manggil dia dengan sebutan bude aja. Suaranya keibuan, tegas ala-ala Ketua PKK yang lagi mengkordinir acara ngerujak bareng 1 RT, bahasa halus, kemayu, dan brewokan. -___- Hah, sudahlah. Gw juga bingung kenapa dia masih dipertahankan buat jadi pembawa berita di salah satu TV nasional.

Sudah panjang belum isi blog gw? Dari cerita di atas, bisa dipetik lah ya pesan intinya. Kalo mengerjakan sesuatu, ya harus total biar keliatan "cantik". Jangan sampe menggeluti satu bidang yang sebenernya kita ngga pengen dan ngga mampu. Karena apa-apa yang ngga kita kerjakan secara total, kemungkinan hasilnya akan jadi sampah aja. Jangan kayak Aurel gitu. Boleh kayak Aurel, tapi please luluran seminggu sekali. Berkarir juga ngga boleh lebay. Jangan kayak Jeremy Teteus yang kayaknya bakal sampe umur 98 tahun dia kekeuh tampil di tivi. Kasih lah kesempatan buat yang muda-muda. Boleh kayak Jeremy, tapi pelase shadingnya jangan ketebelan!

Cantik-ngga cantik, sebenernya kalian sendiri yang menentukan. Bisa tampil cantik, alhamdulilah. Tampil ngga cantik, harus siap diomongin. Gampangnya cuma sekedar rapih aja, ngga menor, baju licin, rambut ngga acak-acakan, ngga pernah ngga mandi tiap ke luar rumah, kelakuan dijaga, tahan emosi tiap PMS, dan ngga suka marah-marah di publik. Gampang kan? Susah.

Sabtu, 05 Januari 2013

Kuno

Perempuan Dilarang Duduk Mengangkang Saat Dibonceng (kompas.com)

Jadi, perempuan di Aceh kalo mau diboncengin pake motor, duduknya harus nyamping kiri. Ngga boleh ngangkang, nyamping kanan, atau madep belakang. Katanya sih, karena tidak sesuai dengan budaya Aceh yang sudah berlaku sejak lama. Ada-ada saja. Mungkin nanti akan ada himbauan bagi kendaraan untuk tidak memfungsikan transmisi/gigi mundur karena Allah tidak suka manusia yang suka "kembali ke belakang" atau mengingat-ngingat masa lalu. Ya bisa saja. Pikiran orang (kolot) mana ada yang tahu.

 

Duduk nyamping. Susah deh, sumpah. Ngeri banget sumpah. <-- *udah pernah*. Di sisi pengemudi, akan sulit menjaga keseimbangan. Apalagi kalo nyetir motornya sambil ngetik SMS, duduk bersila, atau ngobrol pake hape dengan cara menyelipkan ponselnya ke sela-sela antara helm dan kuping. 

 

Duduk nyamping. Mungkin masih ngga lebih berbahaya naik otopet sambil sikap lilin dengan rute Jonggol-Cimahi. Gw pribadi, kalo ada yang minta nebeng, gw akan minta penumpangnya duduk ngangkang atau sekalian duduk di depan aja macam anak balita diajak muter-muter komplek sama bapaknya. Daripada duduk nyamping, keselamatan agak diragukan. Pokonya kalo tiba-tiba ada yang minta dibonceng gw dengan duduk nyamping, gw akan turunin di tengah jalan, baik cowo atau cewe. Kesibukan mikirin adat lama, akhirnya sampai mengesampingkan keselamatan.

 

 Working women. Kekinian, kebutuhan, atau Melanggar Kekunoan?

 

Dulu, pas jaman gw kuliah, mungkin sekitar 1800 tahun sebelum masehi, ada temen gw, sebutlah namanya Android. Dia selalu lantang ngomong "Perempuan ya ngga boleh bekerja! Karena, gw mau istri gw nanti selalu ada di rumah, siap ngelayanin gw, tiap gw kecapean pulang kantor". Tiap ngebahas soal wanita bekerja, dia selalu dengan tegas menyatakan keberatannya seperti itu. Kisah nyata lho, tweeps. Gw juga heran ada orang dengan pemikiran seperti itu. Mendingan si Android piara kucing aja ya. Dikandangin, terus kalo pulang kerja dan merasa stres, bisa main-main sama kucingnya. Lebih ngga ngorbanin perasaan orang kan? Dosanya mungkin lebih sedikit.

 

Tapi apapun itu, gw berharap sekarang si Android udah jadi manager atau direktur di perusahaan terkemuka. Karena kalau tidak, susah cyin. Biaya sekolah mahal. Harga tas naik tiap tahun. Harga apartemen naik tiap hari Senin. Biaya parkir sekarang udah Rp 3000 per jam. TDL naik walau electricity di kota-kota besar masih byar-pet. Ongkos tol udah seharga 1 bungkus nasi rames pake telor dan tempe orek. Susah lah kalo istri ngga kerja. Kecuali kalo yey orang tajir.

 

"Pokonya setelah SMP, gw ngga akan ngelanjutin ke SMA. Buang-buang duit aja! Perempuan mah ujung-ujungnya juga di dapur doang!" -Siti Maesaroh, temen SD gw, diungkapkan ketika lagi pinjem-pinjeman sisir di mushola sekolah- Cita-cita: menjadi ibu rumah tangga. Sungguh cita-cita yang mulia. Walau akan lebih mulia dan makin gress lagi kalo titelnya ditambahkan jadi ibu rumah tangga yang berpendidikan dan berkarir.  

 

Tapi apapun itu, gw berharap kalo Siti Maesaroh sekarang udah ngubah namanya menjadi Cindy atau Jessica. Ya apalah arti sebuah nama, selama itu bukan Siti Maesaroh. Ok bye. Love you.

 

Siapa yang ngga tau kasus Bupati suatu daerah di Jawa Barat dengan nama Aseng Dicky? Saking masifnya pemberitaan, gw sampe yakin kalo kabar soal pernikahan fenomenalnya Aseng juga ditayangin di channel Space Toon. 

 

Aseng. Dicemooh karena ulah kejamnya dengan menikahi gadis belia selama 4 hari saja. Macam frekwensi ganti celana dalem gw, 4 hari sekali. 

 

Yang mau gw bahas di sini adalah soal Aseng, istri Aseng, dan gadis belia yang dinikahi Aseng selama 96 jam itu.  Jadi, istri pertamanya Aseng ternyata memang sudah mengetahui soal pernikahan Aseng dengan gadis belia itu. Dan, istri pertamanya (dengan secara menakjubkan) mengijinkan! Mungkin kalo Aseng ijin mau ganti kelamin juga bakal dibolehin sama istri pertamanya kali. Ngga pedulian atau takut dicerai? Ya kalo sampe dicerai juga, istrinya mau makan apa? Tinggal di mana? Karena setahu gw, istrinya Aseng memang tidak bekerja dan tidak berpenghasilan. Repot yes?

 

Beberapa minggu lalu, gw juga liat pemberitaan soal pejabat negara yang menikah dengan istri kedua dan melupakan istri pertamanya sampai sang istri pertama musti tidur di halaman rumah dengan hanya beratapkan terpal. Sang istri ngga tau lagi mau tinggal di mana karena diusir oleh sang suami. Dasar laki-laki!

 

Gw ngga mau menakutkan kalian, tapi alangkah lebih "aman"nya kalo kita (sebagai istri), *KITAAA?* juga punya pegangan; pendidikan dan karir. Jadi kalo suami kita ngelempar petasan, kita bisa bales dengan ngegelindingin granat ke tempat suami kita berpijak. *KITAAA?* Lihatlah si Halimah, terserah deh lo mau nikahin Mayang! Pokoknya kita cerai kalau sampai gw dimadu! Gw bisa hidup tanpa lo karena punya bisnis dan mampu menghasilkan sendiri.

 

Nyokap gw juga dulu begitu. Tiap berantem sama bokap, dia bisa lebih lantang dan sering banget ngancam cerai sambil tepuk-tepuk dada dengan bilang "AKU BISA HIDUP SENDIRI, AKU BISA!! TAPI URUS ANAK KAMU SI RHINO ITU YA! AKU NGGA MAU! DASAR ANAK TIDAK ADA FUNGSINYA!! KERJANYA TIDUR, MAKAN, DANDAN, TIDUR, MAKAN, DANDAN!! *terlalu buka aib* Pokonya kalo bokap dan nyokap gw berantem, keramik di lantai rumah bakal pada pecah karena nyokap gw lebih suka marah-marah dengan ngelempar dan ngebanting-bantingin ulekan, bukannya piring, saking ngerasa powerfullnya. Sampe sekarang, lantai rumah gw jadinya pake aspal dan sebagian dilapisi beton aja biar kuat.

 

Baiklah. Jadinya gw seperti menggambarkan wanita yang punya karir akan gampang minta cerai, ya? Sebenernya bukan gitu. Namun, tiap ada masalah atau perdebatan, kan akan lebih enak kalo posisi orang-orang yang berdebat itu "sama tinggi". Jadi penyelesaian masalah ngga akan berdasarkan atas siapa yang bisa direndahkan dan diremehkan. Perlombaan aja contohnya. Kan kalo balapan mobil, ya mobil aja yang boleh ikutan. Perlombaan sepeda, ya bajaj ngga boleh ikutan. Semua diseragamkan agar tidak ada yang merasa dirugikan karena bajaj sudah pasti lebih cepat dari sepeda.

 

Wanita bekerja. Itu pilihan. Banyak temen gw yang sekarang berkeluarga tapi kegiatannya jadi ibu rumah tangga aja. Tapi toh mereka semua berpendidikan. Ngga nge-set dirinya dari SD untuk jadi ibu rumah tangga aja dan males memperkaya diri. Sebagian memang memilih jadi IRT karena anaknya masih terlalu kecil untuk ditinggal. Jadi pasti mereka tetap punya pikiran untuk berkarir dan berkarya ketika anaknya sudah besar nanti.

 

Terus gw jadi bingung mau bikin kesimpulannya gimana. -__- Intinya sih, jangan kuno-kuno amat lah jadi orang. Ngga asik kalo udah jamannya ngirim-ngirim pesan pake watsapp, kalian masih suka tukar-tukar pikiran pake burung merpati atau kirim-kiriman ide lewat mimpi.

 

Selebihnya, plis Aurel. Kalo mau tampil di tivi, jangan pake tanktop lagi. Kulit udah macam bocah hobi ngejar layangan gitu, pake segala pamer ketek! Gw ngeliatnya juga iba. Jangan lagi ya, Rel. Pake baju besi atau baju mumi sekalian aja lah biar ngga ngerusak mata penonton.

 

Sampai jumpa! 

Rabu, 19 Desember 2012

Kamu, Udah Tau Mau Ngapain?

Kemaren (19-12-12), gw nonton rerunnya Asia's Next Top Model dan sangat disayangkan, akhirnya wakil dari Indonesia, Filantropi, musti keluar dari arena. Rasanya kecewaaaa banget gw... *lah siapa gw* *pernah minjemin foundation aja ngga* Tapi kalo mau diprediksi, si Filantropi ini emang semacam tinggal menghitung hari doang buat dieliminasi. Semuanya, kecuali yang juara I, juga tinggal menghitung hari buat dieliminasi sih, tapi entah kenapa gw ngerasa kalo Filantropi memang bakal keluar cepet. Kenapa? Karena dia kaku. Dari awal dia ngga pernah dapet sorotan. Sekalinya dapet, pas lagi di penampilan terjeleknya. Apes. Kalo dia pose, kaku banget, semacam bukan model. Dari episode ke episode, makin keliatan bahwa Filantropi ini blank, ngga tau mau ngapain di ajang Asia's Next Top Model. Ngga tau lagi gimana caranya ngeluarin kelebihannya dia di acara itu. Gw jadi curiga kalo dia malah ngga tau kapasitas dirinya sendiri dan bagaimana cara mengembangkannya. Terakhir dia disuruh pose seksi, jatuhnya malah seperti ekspresi Naruto lagi nahan pipis. Akhirnya keluar deh. Ngga perlu lah kayaknya kita mempertanyakan soal kenapa Filantropi yang maju ke ANTM dan bukan orang lain, yang mungkin lebih kompeten. Memang rejekinya Filantropi aja bisa masuk ke sana. Abis, mau mengharapkan siapa lagi kira-kira? Tina Teen?

Tina Teen. Muncul pertama kali di tivi gw taun 1998 dengan lagunya Bool-boolnya. Yah, gimana ya. Dia muncul di saat Indonesia lagi berduka, Rupiah dihantam krisis, Semanggi abis dijajah mahasiswa di taun sebelumnya, ruko Pak Ahong dijarah maling berkedok ibu-ibu, dan Mal Klender dibakar massa. Terus, sekonyong-konyong Tina Teen muncul dengan goyang kepala edek-edeknya di mana gw ngga tahu yang mana kepala, mana perut, dan mana paha, semuanya seukuran. Pertama liat video klipnya, gw kirain lagi ada iklan kornet karena isi videonya kok daging semua... Eh ternyata video klip musik anak-anak.

Kemunculan Tina Teen di tahun 1998 semacam makin membawa penderitaan bagi masyarakat Indonesia. Gw bahkan pernah curiga kalo naiknya harga beras (kelangkaan beras) pada tahun 1998 diakibatkan oleh keluarga Tina Teen yang memborong semua gudang beras di Indonesia untuk konsumsi perut Tina pribadi. Lagian, badan kok perut semua begitu? Sempet juga gw mempertanyakan ke tuhan, "Ya Tuhan, kenapa ngga dia aja yang dijarah massa pada tahun 1997?". Tapi kemudian gw tersadar, siapa yang berniat menculik Tina ketika semua masyarakat paham bahwasanya harga 1 kardus Indomie terasa lebih bernilai dibanding seonggok daging yang gemar goyang-goyang leher macam agar-agar kebanyakan air itu? Tiap lagunya diputer di tivi dan pas sampe di lirik "Mama sayang aku, papa juga sayang aku, nenek apalagi, kakek juga sayang aku...", rasanya gw pengen marah-marah di depan tivi dengan teriak: "ADA GW!! ADA GW YANG NGGA SAYANG SAMA LO!! GW BENCI!! ADA GW!!"

Atau bagian: "Cantiknya memang cantik, manisnya memang manis, semua sukaaa..." Rasanya pengen teraik di depan mukanya: "ADA GW!! ADA GW YANG NGGA SUKA SAMA LO!!" *agak susah emang kalo udah dibawa personal*

14 tahun berikutnya... Tina Teen mendadak jadi bahan omongan karena tampil di majalah pria dewasa dengan foto syurrr... Syur banget memang, walau pipi chubby-nya agak mengganggu. Hak semua orang untuk berkarya sih. Tapi, Tina Teen ini seperti susah fokus. Bikin single, belum juga singlenya laris, dia pindah  aliran dengan ngebentuk girlband. Belum mantep dengan grilbandnya dan nampak ogah-ogahan ngelanjutin karir girlbandnya, lalu dia tampil dengan foto syur di majalah dewasa. Tampang di fotonya pun seperti ngga fokus mau apa dan ngga ngerti musti bagaimana bertampang seksi. Ngga mengerti kapasitas diri lagi kasusnya. Semuanya dilakukan dengan tabrak-lari. Satu belum kelar, udah pindah ke satunya. Satunya baru dimulai, udah mulai hal lain yang baru lagi. Kapan kelarnya? Belum tau juga apakah karir sebagai model majalah dewasanya akan dilanjutkan atau ngga. Tapi kalo bisa ngasih saran, mungkin mbak Tina bisa coba jualan pulsa atau Blackberry di Glodok dan Mangga Dua aja. Mungkin akan berhasil kalo berkarya di sana. Tampang, sesuai. Cerewet, pas banget. Bakat usaha? Yaaa belum tau kalau belum dicoba lah.

Cukup tentang Tina *jorokin Tina ke kolam buaya*, sekarang kita bahas soal yang lain. AA Gatot Brojol Mesti. Jadi setelah nonton ANTM itu, gw langsung ganti channel tivi ke acara Mata Najwa di Metro Tv yang membahas soal kisruh perfilman Indonesia. Jadi, Brojol Mesti ini adalah Ketua Parfi (Persatuan Film Indonesia?) dan Dewan Pengarah FFI, ajang kompetisi perfilman Indonesia yang bergengsi hingga pada tahun 2006, film Ekskul dinobatkan sebagai film terbaik. Sekedar pengingat, kualitas film Ekskul bisa dikatakan sangat jauh di bawah kualitas film Suster Keramas.

Keberadaan AA Brojol Mesti di Parfi dan FFI memang pantas dipertanyakan. Lah, peran dia di dunia seni apaan? Terakhir dia muncul di tivi cuma karena penyanyi Reza yang mau cerai dengan suaminya. AA Brojol ini memang semacam penasihat spiritual para artis lah. Favoritnya para artis untuk konsultasi spiritual. Jadi mungkin karena sering berhubungan dengan artis, menjadikan AA layak menjabat posisi Ketua Parfi. Bah! Aji Jeje juga bisa kalo gitu mah. "Bang, idung Krisdayanti ya..."

Di acara Mata Najwa kemaren, si AA Brojol Mesti ini ditanya oleh Najwa soal "Apa masalah FFI saat ini?" Dan AA menjawab "Piala FFI saat ini hanya dari plastik biasa. Saya ingin piala FFI dilapisi emas". Lah. Gigi lu emas! Sekalian aja lu bilang karpet di gedung yang digunakan untuk penyelenggaraan FFI di tahun 2012 banyak kutunya. Yey artis atau tukang sablon, pake ngurusin yang begitu-gituan?

Lalu si AA pun menjelaskan bahwa posisinya dia di Parfi dan FFI sesungguhnya merupakan anugerah tuhan. Ya benar. Apapun yang terjadi di dunia ini merupakan anugerah dan kuasa tuhan. Cuma masalahnya, mampu ngga kita memanfaatkan anugerah yang dikasih tuhan itu? Mungkin kan, tuhan ngasih suatu anugerah ke manusia buat dijadikan pembelajaran atau ujian seberapa mampu kita memanfaatkan anugerah yang dikasih tuhan ke kita itu. Kalo ngerasa ngga mampu dan malah membuat semuanya berantakan, ya secepatnya keluar. Jangan maksain berada di tempat yang kita ngga paham musti ngapain di dalamnya dan menyalahgunakan anugerah tuhan yang dikasih ke kita. Nyusahin orang lain juga jadinya.

Kalo para pemirsa di sini, gimana? Udah paham dengan kapasitas diri sendiri, belum? Bangun pagi, kerja, atau kuliah, udah dilakukan dengan ikhlas dan sesuai keinginan, belum? Ngga ngerasa keberatan atau salah jalan sama sekali karena melakukan sesuatu yang ngga sesuai keinginan hati kita hingga membuat kita ngerasa ngga total dalam melakukan perkerjaan yang lagi kita cimpungi, kan? Gw juga sebenernya pernah merasakan hal itu. Sampai akhirnya gw join di salah satu MLM internasional di mana gw jadi tau apa tujuan hidup gw sebenernya. Gw bisa lebih ada waktu buat keluarga. Bisa ajak liburan mama, papa, mertua, anak terlantar, janda-janda tua, duda-duda keren, keliling dunia. Go Diamond!! *semakin ke belakang, semakin minta diabaikan blog ini*

Terimakasih sudah membaca ya, tweeps! Bagaimana topik dari tulisan kali ini? Menghibur, menambah pengetahuan, semakin meningkatkan kepercayaan diri para pembaca, atau bagaimana? Apapun itu, mudah-mudahan nyinyirnya selalu membekas ya...

Caw!

Kamis, 13 Desember 2012

Kelakuan...

Ngga. Gw lagi ngga ngomongin kucing garong. *irama musik pantura membahana* Tapi gw mau ngomongin soal kelakuan artis yang kadang suka bikin kita bergumam "Ih, kok segitunya sih?" "Ih, ngapain sih nih artis?" "Ih, kok sama ya kelakuannya kayak gw?"

Ih, kok segitunya sih...
Sebelumnya, gw mau ucapkan selamat kepada Kadek dan Raoul Termos atas kelahiran putra keduanya. Semoga jadi anak yang soleh, berbakti kepada orang tua, dan... HARUS YA SI KADEK DANDAN PAS MAU LAHIRAN? Sumpah. Sengidam-ngidamnya orang, cuma ini doang kelakuan orang hamil-mau-melahirkan yang paling aneh yang pernah gw liat. Jadi kalo gw liat di infotainment, si Kadek keluar dari ruang bersalin dengan make up super tebal dan rambut sasak bak orang yang baru kelar menghadiri kondangan adat Batak. Aneh? Jelas. Nyokap gw juga bisa dibilang penggila dandan. Dulu, gw merasa lebih enak dianter ke sekolah sama bokap dibanding sama nyokap karena nyokap dandannya lama, suka bikin telat. Tapi ya gilanya-sama-dandan ngga perlu se-Kadeknya gitu lah. Gw pribadi ngga suka dandan... *Ya menurut M?* Gw cuma suka ngedandanin orang aja... Mau adat apa aja bisa. Batak, Kalimantan, Jawa, Papua, sanggul minimalis, sanggul roda bajaj, sanggul roda kehidupan, cepol roda asmara, sasak Syahrini, sasak Mantili, bulu mata Ashanty, maskara Lasmini, semua bisa... Intinya, dear Kadek, percuma lo jago dandan kalo keahlian dandannya ngga menurun ke Aurel Herminsyah. *lah Aurel lagi*

Ih, ngapain sih nih artis?
Jane Saliman... Duh, Jane. Lo lagi ngapain sih sebenernya? Sedih-sedihan karena diputusin Iko Marawis (beberapa bulan lalu), terus nangis-nangis karena ngga diundang ke pesta pernikahan Iko Marawis-Audit (3 bulan lalu), lalu ngasih kabar mau nikah di tanggal 12-12-12 sama anak mantan presiden (minggu lalu), belakangan bilang pernikahannya batal (dua hari lalu), sampai akhirnya curhat di infotainment kalo dia abis ketipu oleh penjual apartemen (kemaren). Jane? Get a life! Akting kek, bikin single kek, main film Hantu Binal Jembatan Semanggi kek, atau apalah. Kerjaannya jual cerita aja. Karya? Ya jual cerita aja karyanya. Saran buat Jane: jangan terlalu membagi kesedihan ke publik lah. Rakyat butuh hiburan, harga kedelai tiap hari naik, beras mahal, daging sapi langka, daging celeng enak, minyak tanah menghilang dari peredaran, sinyal 3G ilang-ilangan dan berubah jadi edge yang bikin beberapa anak muda Jakarta ingin mengakhiri hidupnya dengan cara makan lidi-lidi pedas 10 bungkus tanpa nafas ... *lalu orasi di Bundaran HI bareng ibu-ibu Kecamatan Geger Kalong* Apalagi kalo sampe nangis-nangis karena ngga diundang ke nikahan mantan. Hih! Dunia baru boleh berakhir kalo sampe ngga diundang ke nikahan Nastar KDI dan Muzgelisah aja. Kapan lagi bisa liat pengantin ngondek? Jadi, ngga diundang ke nikahan mantan? Ya sedih juga sih... :( Apalagi kalo keadaannya kita belum ada pasangan dan abis kecopetan di TransJakarta koridor Harmoni-Senen. Yah, happiness will soon come to you, Jane. Dasar lebay!

Ih, kok kelakuannya sama kayak gw ya?
Kurang ngajar!! Gw lagi ngga ngomongin Olga Syahputri! Cikita Mirzami. Marah-marah di Twitter, kemudian dipenjara karena mukul anak orang, terus ngga ngaku bersalah, lalu (pura-pura) sakit di penjara biar bisa tidur di rumah sakit dan meninggalkan jeruji penjara. Secara pribadi, gw membenci artis satu ini. Pernah gw tonton acara tengah malamnya dia dan kacau total. Yang bikin rating acaranya stabil cuma pameran belahan dadanya yang bertato itu doang. Ngomong ngga jelas arahnya kemana, kebanyakan ngelantur, artikulasi juga ngaco macam orang mabok lem Aibon yang mendadak disuruh bawain acara. Pokoknya kacau tapi laris. Akhirnya acaranya disuspend karena si Cikita dipenjara. Tapi setelah 2 bulan dipenjara, dia bebas bersyarat dengan alasan anaknya (adopsi) ngga ada yang ngurus. *hoek* Teknologi baby sitter apa kabarnya? Pun setelah keluar dari penjara dia sibuk kelayapan, luluran, makan-makan, dan kegiatan semi hura-hura lainnya tanpa bawa anak (adopsi)nya. Yah, sama juga terlantar anaknya. Dasar manusia kebanyakan excuses!

Kebanyak excuses. Duh sorry telat, sakit perut tadi (padahal emang kesiangan). Pak, Sabtu besok saya ngga bisa lembur karena ada kuliah (padahal sampe di kampus cuma ketawa-ketiwi dan cuma isi absen di kelas). Bu, saya ngga masuk ya... Kurang enak badan... (padahal lagi nangis di kamar dari malem sampe pagi karena abis berantem/putus sama pacar). Gw belum bisa pacaran lagi, masih trauma... (padahal emang ngga pernah mau move on dari mantan). Banyak excuses kayak artis. Jangan sampe ya, tweeps. Kelakuan kita yang normal-normal aja.Percayalah, martabat orang "biasa" hampir selalu lebih tinggi daripada artis-artis yang suka muncul di infotainment. Kita jangan berkelakuan kayak mereka. <-- *kalo lagi sidang skripsi, udah pasti dibantai soal dari mana dapet hipotesis barusan*

Inti dari tulisan gw kali ini? Ngga ada! Gw cuma benci orang yang dandan sebelum melahirkan, benci orang yang cengeng karena ngga diundang nikahan mantan, dan sebel sama artis yang ada tato di payudaranya! Selamat beraktivitas! Jangan kebanyakan excuse!